Operasi FAM - My First Surgery, My Unforgettable Experience


Pada hari Rabu, tanggal 6 Maret 2013 lalu aku baru saja menjalani operasi pengangkatan tumor FAM. Sebenarnya FAM adalah tumor yang banyak dijumpai pada remaja perempuan di seluruh belahan dunia. 
Di blog-ku ini, aku hanya ingin berbagi pengalaman pada teman-teman yang mungkin juga mengalami hal serupa denganku dan masih takut untuk melakukan operasi. Tapi semoga dengan membaca tulisanku ini, dapat mengurangi ketakutan teman-teman sekalian. Aku tidak membahas tentang apa itu FAM karena teman-teman bisa mencari tahu di Google.


Aku baru mengetahui dari dokter bahwa aku menderita tumor FAM pada pertengahan Februari, namun aku tidak langsung melakukan operasi karena 'mendengar kata operasi' saja sudah membuatku takut. Apalagi harus 'melakukan operasi'. 

Tiga minggu kemudian, yaitu pada awal Maret, akupun memberanikan diri untuk melakukan operasi. Keberanian itu aku dapatkan dari dukungan teman-teman dan keluargaku. Dan aku juga meyakinkan diri sendiri bahwa jika tumorku tidak segera diangkat, maka ia akan semakin membesar. Akhirnya pada hari Senin, 4 Maret 2013, aku dan ibuku pergi ke rumah sakit untuk membuat janji dengan dokter bedah yang akan mengoperasiku. Setelah membuat janji dengan sang dokter, aku disuruh kembali pada keesokan harinya, yaitu pada hari Selasa, 5 Maret 2013 untuk cek darah dan rontgen.

Saat akan melakukan cek darah, aku merasa sangat ketakutan sampai tanganku terasa dingin. Ketika melihat suster yang siap menusukkan jarum ke tanganku, aku merasa ingin berlari dari ruangan itu. Namun ibuku memegang tanganku dan menenangkanku bahwa tidak akan terasa sakit. Pada saat jarum sudah menembus kulitku, aku kaget dan refleks menarik tanganku. Suster itupun berkata, "Kenapa ditarik tangannya? Jadi ga dapet deh darahnya. Terpaksa saya harus suntik dua kali. Kita suntik lagi, ya... Tolong jangan ditarik tangannya, dilemaskan aja." Akhirnya akupun menuruti perkataan suster itu. Kugigit bagian bawah bibirku agar tidak menjerit saat suster itu kembali menyuntikku untuk yang kedua kalinya. "Nah, gitu kan bagus. Lain kali jangan takut lagi, ya..." Kata suster itu ketika sudah selesai menyuntikku.

Setelah tes darah, aku pergi ke ruang rontgen. Tidak ada masalah saat aku rontgen. Rontgen sama sekali tidak sakit. Rontgen bertujuan untuk melihat apakah paru-paruku sehat atau tidak.

Tahapan-tahapan yang harus dilakukan sebelum operasi hanya cek darah dan rontgen. Selanjutnya aku dipersilakan untuk pulang dan kembali lagi pada malam harinya karena operasi akan dilakukan besok, yaitu Rabu, 6 Maret 2013. Jadi, sehari sebelum dioperasi pasien sudah harus berada di rumah sakit.

Di rumah, aku menyiapkan baju dan barang-barang yang akan kubawa ke rumah sakit. Pukul 9 malam, aku diantar ke rumah sakit oleh oomku karena ayahku sedang berada di luar kota. Malam itu, aku dan ibuku tidur di rumah sakit. Kamar yang kuambil adalah kamar VIP, jadi aku bisa lebih rileks karena aku tidak berbagi kamar dengan orang lain. Pukul 11 malam, aku sudah tidak diperbolehkan untuk makan dan minum lagi. Aku pun mulai puasa.

Malam itu aku menonton tv sampai pukul 12 malam karena aku sama sekali tidak bisa tidur. Kuganti saluran tv dari Disney Channel, National Geographic Channel, HBO, dan lain-lain. Tapi pikiranku masih belum bisa teralihkan dari operasi yang akan kulakukan besok. Melihatku tidak bisa tidur, ibuku berkata, "mendingan kamu paksain tidur malam ini. Usahakan nanti jam 3 bangun, sholat tahajjud."  

Aku pun memaksakan kedua mataku tertidur dan pukul 3 pagi aku terbangun. Mungkin karena malamnya aku sudah berrniat untuk melakukan sholat tahajjud pukul 3 pagi, jadi mataku otomatis terbuka pukul 3 pagi. Wallahua'lam. Tapi aku senang sekali karena bisa melawan kantuk dan melakukan sholat tahajjud.

Aku sholat tahajjud 8 rokaat lalu ditutup dengan sholat witir 3 rokaat. Setelah itu aku berdo'a agar aku bisa menjalani operasi dengan perasaan tenang. Aku juga memohon kepada Allah agar aku tidak merasakan sakit setelah menjalani operasi.

Setelah melaksanakan sholat tahajjud, aku kembali tidur dan terbangun pada pukul 5.30 pagi. Aku pun melaksanakan sholat Subuh dan mandi. Lalu setelah mandi, aku pun duduk di atas ranjang dan menghidupkan tv. Ibuku gantian mandi setelahku.

Beberapa menit kemudian, dua orang perawat masuk ke dalam kamarku dan memeriksa tensi darahku. Tensiku 110. Untungnya normal. Karena operasi tidak bisa dilakukan apabila tensi darah pasiennya tinggi atau stress. Sebelum keluar dari kamar, salah seorang perawat memberitahuku bahwa operasinya akan dilakukan pada pukul 10 pagi. Kulihat jam yang tergantung di dinding kamar rumah sakit. Masih pukul 7 pagi.

Karena operasi baru akan dilakukan 3 jam lagi, aku pun menghabiskan waktu dengan membalas mention teman-temanku di Twitter, BBM, dan SMS. Tak terasa pukul 10 pun tiba. Dua orang perawat datang dan menyuruhku naik ke tempat tidur dorong. Aku naik ke tempat tidur dorong dengan enggan dan kedua perawat itu mendorong tempat tidurku menuju ruang operasi. Ibuku juga ikut menemaniku. Selama di perjalanan dari kamarku menuju ruang operasi, aku tak bisa menghindari tatapan-tatapan penasaran dari orang-orang yang kutemui di jalan. Mendekati ruang operasi, aku pun kembali gelisah. Kupejamkan kedua mataku dan kutarik nafas dalam-dalam.

Sesampainya di ruang operasi, kedua perawat tersebut menyuruh ibuku untuk menunggu di luar ruangan operasi. Hanya pasien yang akan dioperasi yang boleh masuk ke dalam ruang operasi. Lalu perawat itu menyuruhku untuk melepaskan perhiasan yang kukenakan. Kubuka anting-antingku dan kuserahkan pada ibuku. Hp-ku juga kutitipkan pada ibuku. Setelah itu, aku dipersilakan untuk masuk ke ruang operasi dan berganti pakaian dengan baju operasi. Kulepas sepatuku dan kuikat rambutku. Kemudian, aku kembali tidur di tempat tidur dan dua orang perawat lain datang menghampiriku.

"Diinfus dulu, ya..." Kata seorang perawat kepadaku. Aku mengangguk pelan dan tersenyum samar. Perawat satunya menusukkan jarum infus ke punggung tanganku dan rasanya seperti tertusuk sampai ke tulang. Mungkin karena aku terlalu tegang, mereka terpaksa harus menusukku dua kali. Saat mereka menusukku untuk yang kedua kalinya, aku berusaha agar tenang dan mengabaikan rasa sakitnya. Ini adalah pertama kalinya aku diinfus.

Setelah diinfus, aku disuruh untuk menunggu sebentar karena dokternya belum datang. Aku pun menunggu di dalam ruang operasi dengan perasaan campur aduk antara takut, gelisah, ngeri, dan ingin menangis. Kedua tangan dan jari-jari kakiku sudah sedingin es.

Pukul 10.30 dokternya datang. Dengan berpakaian serba hijau, plus tutup kepala dan sarung tangan, ia masuk ke dalam ruang operasi diikuti oleh tiga orang asistennya yang juga berpakaian sama dengannya. Salah seorang asistennya menyuntikkan bius ke selang infusku. Aku tidak merasakan sakit sedikitpun karena biusnya disuntikkan ke selang infus, bukan ke kulitku.

Kurang lebih 10 detik setelah dibius, aku mulai merasakan kedua mataku berat. Lama-kelamaan kedua mataku terasa semakin berat dan aku ingin tertidur. Lampu operasi mulai dihidupkan di atasku. Dokter mengenakan masker dan aku tidak bisa menahan mataku yang terasa semakin berat. Kata-kata terakhir yang kudengar adalah, "ambilkan pisau tujuh," kata dokter. Mendengar itu, aku ingin sekali kabur dan melawan pengaruh bius. Tapi yang terjadi adalah aku tertidur lelap.

Aku terbangun mendengar suara seorang perawat yang memanggil-manggil namaku berulang kali. "Nisa, Nisa, bangun Nisa..." Suaranya terdengar tegas dan sungguh-sungguh. Aku membuka kedua mataku dan kudapati ibuku berdiri di sampingku. Beliau tersenyum melihatku sudah sadar.

"Operasinya udah selesai, bu?" Tanyaku hanya ingin memastikan. Padahal aku sudah tahu jawabannya.
"Udah," Jawabnya sambil tersenyum lebar.
Mengetahui aku benar-benar sudah selesai dioperasi, aku menangis. Aku tidak tahu mengapa aku menangis, mungkin karena lega. Melihatku menangis, ibuku menenangkanku dan mengusap keningku. 
"Sssh, ngga apa-apa nak, ditahan aja sakitnya," ujarnya.
Aku hanya diam. Tangisku pelan-pelan berhenti. Ibuku tidak tahu bahwa aku menangis bukan karena kesakitan setelah dioperasi, namun aku sendiri juga tidak tahu mengapa. Sejujurnya aku tidak merasa sakit sedikitpun.
"Berapa jam operasinya?" Tanyaku lagi ketika tangisku sudah reda.
"Ibu nunggu di luar ruang operasi satu jam."
"Ooh.." Cuma itu kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku baru menyadari mulutku terasa manis dan aroma nafasku seperti bau obat bius. Kepalaku juga terasa pusing sekali. Aku rasa itu adalah efek dari obat bius.

Setengah jam kemudian, dua orang perawat datang dan mendorong tempat tidurku kembali ke kamarku. Selama di perjalanan dari ruang operasi menuju kamarku, semua orang yang melihatku di jalan menatapku dengan penasaran. Mungkin isi pikiran mereka sama: "Anak ini sakit apa, ya?" Jujur, ditatap penasaran seperti itu oleh semua orang rasanya sangat menjengkelkan.

Setelah dioperasi, aku belum diperbolehkan makan. Aku baru diperbolehkan makan pada pukul 7 malam. Itu berarti aku berpuasa selama 20 jam dan hanya mengandalkan infus. Selesai operasi fisikku lemah. Namun sejujurnya aku tidak merasakan rasa sakit yang berarti. Sekali-kali memang terasa ngilu, tapi hanya sebentar. Alhamdulillah do'aku terkabul. 

Aku dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Masuk pada Selasa malam (5 Maret 2013) dan keluar pada Jum'at malam (8 Maret 2013). Setelah keluar dari rumah sakit aku masih harus kontrol jahitan setiap 5 hari sekali. Dan setelah beberapa minggu kemudian, jahitannya dibuka. Tergantung dari kondisi jahitannya sudah kering atau belum.

Sekian pengalamanku ketika operasi FAM. Semoga bermanfaat...

Comments

  1. Cie nisa, gaya nulisnya kayak novel-novel :p

    ReplyDelete
  2. masa iya? hihihi iya dong, kita kan penggila novel :p

    ReplyDelete
  3. Say infus sama cek darah sakit ga? Aku mau operasi fam juga tp takut bangetttt :(

    ReplyDelete
  4. sorry for the late reply ya olise, baru sempat ngecek blog. lebih sakit infus daripada cek darah. aku dulu juga takut banget kok awalnya, tapi ternyata operasi fam itu ga sakit. cuma agak nyeri aja kalo pas tanganku diangkat. jangan takut sist ;) lega banget rasanya setelah dioperasi :)

    ReplyDelete
  5. assalamualaikum wr wb
    mau tanya nih brapa lama ga pakai bra dan kapan boleh kna air atau mandi

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku dulu abis operasi gak pake bra cuma sekitar 2 hari. malah dokternya yg nyuruh aku pake bra.
      sebenarnya plasternya anti air, jadi kalo kena air plasternya gak basah sampe kena jahitannya. tapi kalo aku dulu gak berani kenain air sampe jahitannya dibuka.

      Delete
  6. aku habis operasi nih baru 11 hari pasca oprasi fam . ada perasaan lega bnjolan itu udah hilang. cman ada respon negatif dari orang orang knapa harus operasi? knapa ga ini dan bla bla -_-
    hasil pantologi anatominya alhamdulillah jinak engga ganas. cman habis operasi rada nyeri gtu

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah alhamdulillah klo udh operasi dan hasilnya jinak. selamat yaa. haha masalah tanggapan negatif orang-orang gak usah dipeduliin, aku dulu juga digituin kok. orang-orang tu pada suka sok tau. kalo gak dioperasi mana kita tau itu tumornya jinak atau ganas. dengerin kata dokter aja, jangan kata orang awam yg gak tau apa2 tapi sok tau. wong dokter yg nyuruh operasi kok. kata dokterku, tumor jinak itu kalo gak diangkat dan dibiarin aja, bisa berubah jadi tumor ganas alias kanker. daripada payudara yg harus diangkat mending tumornya aja yg diangkat. sebenarnya memang banyak cara lain selain operasi sih kayak mengkonsumsi obat-obatan herbal gitu. cara itu juga udah pernah aku jalani tapi cuma 2 bulan doang karena aku gak telaten orangnya. satu hari aku minum 12 pil herbal2 sampai perutku selalu kembung. akhirnya aku nyerah pake herbal dan milih operasi.

      Delete
  7. iyaa betul tuh . oh ya ada makanan pantangan ga selain bakso atau mie miean dan mecin mecin ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kata dokterku sih makanan berpengawet dan bepewarna juga dihindarin sist. banyak yah pantangannya hikss

      Delete
  8. Lihat blog mba nis, jdi pngen nangis. Aku pernah melalukan operasi FAM ketika 3thn yang lalu. Akhir januari benjolan itu muncul lagi. Aku nangis, aku belum siap untuk melakukan operasi lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sabar ya... Insya Allah dibalik sakitmu, Allah menghapuskan dosa-dosamu.
      "Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih, kesusahan hati, atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya."
      (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

      Semangaatt! Btw aku denger dari dokter, FAM itu bisa hilang sendiri setelah kita menyusui loh.. jadi salah satu solusi yang bisa aku sarankan mungkin... nikah muda? hehehe

      Delete
  9. Saya ada benjolan kecil jg di payudara kanan dkt ketiak,sy br mengetahui sktr 3mggu and blm check up ke dokter krn agak2 takut gt. Apalagi td bc pengalamanmu ktny kt2 trkhr yg di dengar "ambilkan pisau tujuh"....aduhhh sangar...jadi ngeri. Takut saya 😲

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak segera cek ke dokter mbak.. semoga cuma tumor jinak kayak FAM. Kalo gak dicek ntar tau2 ganas gimana? kalaupun harus operasi juga gak sakit loh mbak, serius. sekarang udah canggih bgt. jahitannya juga udah gak membekas. wkwk yg "ambilkan pisau tujuh" itu mungkin maksud dokternya pisau nomor 7, bukan 7 buah pisau mbak..

      Delete
    2. mon maap itu kok bisa temennya denger dokternya ngomong "ambilkan pisau tujuh". bukannya untuk operasi payudara pakainya bius TOTAL ?

      Delete
    3. saya sendiri sebagai pasien yang mendengar dokter bilang begitu. iya betul, operasi FAM itu bius total tapi pengaruh biusnya di saya waktu itu tidak langsung bekerja. jadi mata saya sudah melemah (menutup), tp telinga saya masih mendengar samar2.

      Delete
  10. Assalamualaikum mba, abis baca pngalamn mba rasa takutku jd brkurang,makasih mba..kebetulan sbntr lg sya jg mau d oprasi fam, ketauannya s sblm bln puasa mba tp aku masih takuttt trus nyoba herbal herbal tp gk ada yg mempan dn akhirnya mau gk mau sya hrs oprasi dan alhamdulilah skrg sya mulai berani untk d oprasi fam ditambah baca pngalamn mba ini aku smakin berani..makasih mba udh mau brbagi pnglmnnya..smoga kita selalu sehat ya belajar dri pngalamn jg hrs jd manusia lbih baik lg:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumussalam, mbak.. alhamdulillah kalau tulisan saya sedikit membantu. aku operasinya udah 4 tahun yg lalu mbak. sekarang pasti alat2nya udah lebih canggih. proses penyembuhannya pasti jadi lebih cepat dan lebih bagus jahitannya. jangan takut ya mbak.. aamiin smoga kita sehat terus yaa

      Delete
    2. hie.. nisa kmren ku jg operasi fam... kmu jaringan nya di bawah pulang ga?

      Delete
    3. Wah smoga cepat pulih ya pasca operasi.. enggak winda, soalnya langsung dimasukin ke lab buat diliat ganas apa enggaknya

      Delete
    4. aku ko ga di masukin ke lab yah.. aku minta ma dokter bedahnya ga perlu itu ga bahaya cuma jinak... huhu jd bngung aku nis trs jaringan nya di kasi trs di sruh bawa pulang... kamu pnyembuhan nya brp lama ya? hehe maaf nis banyak tanya.. thanx ya :)

      Delete
    5. lha kamu tau dari mana kalo itu jinak? :( aku malah serem kalo dibawa pulang:") aku dulu cepet kok, 2 mingguan aja. iyaa gapapa kok ;)

      Delete
  11. haha bkn nis mksudku kata dokter ga prlu di bwa ke lab... katanya itu jinak... pdhl ku pngn nya di tes ke lab jg... ktanya ga prlu gtu.. !! oh iya 2 mminggu di oprasi gtu km masi rasain nyeri gak.. trs jaitan nya masi sedikit merah gak? aku uda ga nyeri... tp kdang rasain nyeri jg dkit.. aku jaitannya ujung kiri uda da yg kelupas gtu Nisa... tp kayanya itu ga masalah...yg ada di ujung kanan.. blm klupas trs sdikit merah itu gmna ya.. trs sdikit nyeri... trs kemerahannya bkl hilang ga yah.. trs bkl normal lg ga ya warna kulitnya kya smula nis? km jg gtu ga waktu bis oprasi.. thnx Nisa hhe maaf bnyak tanya yah... bis ga prna di oprasi jd bnyak tanya :))

    ReplyDelete
  12. Pas sblum operasi itu di infus apa gak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, sudah mulai diinfus sekitar 1 jam sebelum operasi.

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prospek Kerja Sarjana Kehutanan

Kenapa Fakultas Kehutanan UGM?