Ujian Nasional 2014 Berstandar Internasional

Pada tanggal 14-16 April 2014 lalu aku baru saja melaksanakan Ujian Nasional (UN) tingkat SMA. Namun, ada yang berbeda dengan UN tahun ini. Soal-soal UN tahun ini berbeda jauh dengan soal-soal try out maupun soal-soal prediksi UN yang telah kami kerjakan selama ini. Tingkat kesulitannya sangat tinggi sehingga membuat banyak siswa yang kesal. Teman-temanku bahkan banyak yang menangis saat keluar dari ruangan ujian. Kalau aku sih nangisnya pas udah sampai di rumah :"


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Mohammad Nuh mengatakan, "Dalam UN SMA/sederajat tahun ini ada perbedaan pola soal, yaitu 10 persen soal UN mengadopsi soal dengan standar internasional Programme for International Student Assessment (PISA) / Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS). Tingkat kesulitan soal dalam UN 2014 terdiri dari 20 persen soal susah, 70 persen soal sedang, dan 10 persen soal mudah."

"Tahun ini bedanya kita mengadopsi soal-soal yang dipakai dalam PISA dan TIMSS sekaligus untuk mengukur kemampuan, kompetensi kita dibandingkan soal-soal dari luar negeri..." kata Menteri yang seenaknya itu.

Saat membaca pernyataan M. Nuh tersebut aku spontan mengumpatnya. Bagaimana tidak? Setiap hari aku mengerjakan kumpulan soal-soal UN 5 tahun terakhir dan sudah hafal betul dengan bentuk soal UN. Lalu tiba-tiba saja saat hari-H, soal-soal yang keluar melenceng jauh dengan soal-soal yang sudah aku kerjakan selama ini.

Sesampainya di rumah aku langsung membuka Twitter dan di Timeline-ku sudah berserak puluhan tweet protes ke official account-nya Kemdikbud dan M. Nuh. Tweet seorang temanku bahkan sudah di-retweet sampai 400an kali. Dan saat aku membaca pernyataan M. Nuh, aku merasa bahwa beliau hanya membela diri. Soal UN tahun ini meleset dari kisi-kisi (SKL). Tingkat kesulitannya pun jauh lebih tinggi daripada UN 5 tahun terakhir.

Sungguh ironis memang melihat kondisi Indonesia saat ini. Bukan hanya segi politiknya saja yang hancur, tapi kini juga pendidikannya. Soal ujian standar internasional, soal latihan standar nasional, metode pengajaran tradisional. So ironic.

Kapan ya UN di Indonesia dihapus? Aku yakin Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan udah tau tentang berita kebocoran soal yang terjadi tiap tahun. Mereka juga pasti udah tau tentang berita jual-beli kunci yang memang benar adanya. Mungkin karena itulah mereka mengadakan percobaan tahun ini. Mereka pasti berpikir "anak-anak ini dikasih soal sesulit apapun pasti bisa juga menjawabnya. Mereka kan udah pada beli kunci. Jadi gak masalah kalau dikasih soal berstandar internasional." Dan akhirnya beginilah, angkatan kelinci percobaan lagi ujian internasional.

Apakah Kemdikbud pikir dengan memberi soal internasional akan membuat anak-anak Indonesia semakin pintar? Yang ada malah menciptakan calon-calon koruptor. Jadi sekarang ini di Indonesia udah nggak ada lagi yang bersih. Pendidikan aja udah gak bersih. Tinggal nunggu azab dari Allah SWT aja lagi. 

Kasian ya, siswa-siswa yang sekolahnya aja gak punya fasilitas internasional, eh malah dikasih soal UN internasional. INI UJIAN NASIONAL, PAK! BUKAN UJIAN INTERNASIONAL! Jujur aja, hari kedua dan ketiga UN aku udah gak ada semangat lagi buat belajar. Soalnya aku gak punya buku latihan soal-soal UN internasional.

Sekarang aku cuma berharap lulus. Gak muluk-muluk. Aku juga bersyukur aku dibesarkan di tengah keluarga yang menanamkan nilai-nilai kejujuran. Ya Allah, mudah-mudahan kemarin adalah UN terakhir dalam hidup saya. Amin ya rabbal alamiin..

Comments

  1. aduh ada yang hilang postnya :"

    ReplyDelete
  2. heey kamu ngestalk blog aku ya :p males aku pampang post tentang orang yg paling nyebelin di dunia bil :"

    ReplyDelete
    Replies
    1. enak aja ngestalk :p keluar semua notif blok kau di google plus aku wkwk. duh nyebelin di dunia tp mantan org terbaik di dunia ya :"

      Delete
  3. eh iya keluar ya notifnya? :' ih enggak, ya :( emang dia nyebelin dari dulu.oke stop jangan dibahas lagi :(

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prospek Kerja Sarjana Kehutanan

Kenapa Fakultas Kehutanan UGM?