Sistem UKT, Meringankan atau Memberatkan?



Sejak tahun 2013 lalu, sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT) mulai diberlakukan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia dengan menggunakan prinsip “gotong-royong”, yaitu mahasiswa yang gaji orang tuanya tinggi akan dikenakan UKT yang tinggi. Begitu pula sebaliknya, mahasiswa yang orang tuanya memiliki penghasilan rendah, akan dikenakan UKT yang rendah juga. Jadi secara tidak langsung, mahasiswa yang penghasilan orang tuanya tinggi akan membantu membiayai mahasiswa yang penghasilan orangtuanya rendah.

Lantas, apa patokan yang digunakan PTN sebagai dasar tinggi – rendahnya gaji orangtua mahasiswa? Kenapa gaji orang tua mahasiswa A dikategorikan tinggi dan kenapa gaji orang tua mahasiswa B dapat dikatakan rendah? Mengapa tinggi – rendahnya UKT hanya didasarkan pada gaji kotor orang tua semata? Apakah aspek lain seperti jumlah tanggungan orang tua tidak diperhitungkan?

Coba pikirkan contoh kasus NYATA berikut. Mahasiswa A dan mahasiswa B adalah mahasiswa Fakultas “X” di Universitas “Z”. Penghasilan kotor orang tua si A dan si B sama-sama di atas Rp10.000.000,- per bulan. Saat mengisi data diri, mereka diminta untuk mencantumkan jumlah tanggungan orang tua. Maka si A pun mencantumkan 1, karena ia adalah anak tunggal. Jadi tanggungan orang tuanya hanya dia seorang.
Namun lain halnya dengan si B. Ia mencantumkan 4 orang karena ia memang 4 bersaudara. Si B adalah anak pertama dan ketiga adik si B masih bersekolah semua. Masing-masing duduk di bangku kelas 1 SMA, 5 SD, dan 3 SD.

Lalu pada saat pengumuman UKT apa yang terjadi? Si A dan si B sama-sama mendapatkan UKT dengan tingkatan paling tinggi, yaitu tingkat 5 dengan besaran biaya Rp8.500.000,- per semester.
Pembaca yang budiman, bisakah anda bayangkan betapa sakitnya hal ini? Mengapa PTN tersebut tidak memperhitungkan aspek jumlah tanggungan orang tua? Orang tua dengan anak 1 dan anak 4 jelas berbeda pengeluarannya.

Sakitnya tidak hanya berhenti sampai di situ. Memasuki masa kuliah, semakin banyak fenomena ketidakadilan yang mengganjal.  Salah satu teman si B ada yang UKT-nya hanya Rp5.500.000,- tapi kost-nya Rp850.000,- per bulan, dan uang bulanannya Rp2.000.000,-.

Sementara si mahasiswa B tadi terpaksa kost di kost yang murah, yang hanya Rp275.000,- per bulan, dan uang bulanannya pun terpaksa ditekan hanya Rp1.000.000,- per bulan. Ia mencoba menerima itu semua karena ingin meringankan beban orang tuanya yang harus membayar uang kuliahnya Rp8.500.000,- per semester.

Seiring berjalannya waktu, keganjalan semakin banyak ditemukan. Banyak teman-teman si B yang merupakan mahasiswa penerima bidik misi (UKT-nya Rp0,-) yang notabene kuliah gratis sampai lulus, tapi lifestyle (gaya hidupnya) sangat tinggi bahkan melebihi lifestyle si B sendiri yang UKT-nya Rp8.500.000,-. Mereka kerap kali makan di café-café ternama, nongkrong di sana-sini, seakan-akan mereka itu orang berada.

Mungkin niat diadakannya sistem UKT baik, agar tidak memberatkan orang tua di awal. Jadi pembayarannya disebar alias dicicil sedikit demi sedikit tiap 6 bulan. Tapi kalau dihitung-hitung, malah lebih mahal sistem UKT juga. Kalau lulus 4 tahun berarti 8 semester dikali Rp8.500.000,- = Rp68.000.000,-.

Wallahua’lam bissowab. Hanya Allah Zat yang Maha Mengetahui. Semoga mahasiswa yang mengalami nasib serupa dengan si B kuliahnya berkah, cepat lulus (kurang dari 4 tahun), dan kelak mendapatkan rezeki yang berlimpah. Dilancarkan dan dimudahkan urusannya di dunia dan mendapat balasan yang setimpal di akhirat. Amin Allohumma Amin.

Comments

  1. Replies
    1. iya aku aja nulisnya sedih les :( keep smile aja deh yaa

      Delete
  2. I feel what you feel, Nis. Bener banget, banyak penerima BM yg bahkan gaya hidupnya melebihi para mhsswa penerima UKT golongan tinggi .__. Dimana letak ketegasan universitas disini dalam menyeleksi bidikmisi dan menentukan ukt mhsswa?! Ukt ku ga semahal mahasiswa B, tapi yg kurasakan sama sprti si mahasiswa B, Nis :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. akeeee! kamu tempatku berkeluh kesah tentang ukt wkwkwk. wah kirain cuma aku yg ngerasain gitu. yahh gimana lagi ya ke

      Delete
  3. Aku maba 2016 kak .. dan aku ngerasain apa yang kakak rasain .. padahal tanggungan ortuku ada 3, dan aku kena ukt 1 golongan dibawah maksimal. Sedih kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haloo dek :)sabar yaa. nanti ngajuin permohonan penurunan ukt aja. di akhir semester sebelum uas biasanya ada dari advokasi lem.

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. I feel you, Betti :( sabar ya, insya Allah kuliahmu berkah. Allah senantiasa bersama orang2 yang sabar. Btw setauku syarat diterimanya permohonan penurunan UKT itu ada 3 kondisi:
      1. Orang tua meninggal
      2. Orang tua sudah pensiun
      3. Orang tua sakit keras
      nah kasusmu di sini kan bapakmu udah pensiun, kenapa masih ditolak ya? padahal temenku aja yang ibunya pensiun bisa turun UKT-nya.ayahnya masih kerja padahal.

      Delete
  5. ngebaca ini karena kesel tidak memenuhi persyaratan pertama dalam nurunin ukt (karena alasan ayah meninggal sebelum sy masuk kuliah) dan kesel emang dapet UKT 5 paling tinggi dan ada beberapa temen yang emang kaya mendapatkan ukt lebih rendah padahal kuliah sering bawa mobil :"(

    ReplyDelete
    Replies
    1. i feel you dear :( temenku yang UKT nya di bawahku aja hpnya iphone 6, kosannya kos eksklusif, mainnya di cafe terus. sabar aja, insya Allah kuliah kita berkah, ujian dimudahkan, lulus dicepatkan. Aamiin..

      Delete
  6. Saya maba baru kak di salah stu ptn surabaya thun ini,bapak sya tidak kerja ibu saya hnya kerja pabrik swasta itupun tangunggan 2 anak dan biaya sehari hari tp malah kena ukt diatas golongan 1

    ReplyDelete
  7. Saya maba baru kak di salah stu ptn surabaya thun ini,bapak sya tidak kerja ibu saya hnya kerja pabrik swasta itupun tangunggan 2 anak dan biaya sehari hari tp malah kena ukt diatas golongan 1

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prospek Kerja Sarjana Kehutanan

Kenapa Fakultas Kehutanan UGM?