LEM FKT UGM 2015, My Lovely Family

Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada atau yang biasa disingkat dengan LEM FKT UGM adalah sebuah organisasi yang memiliki fungsi eksekutif yaitu sebagai eksekutor/pelaksana kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa). Di SMA, organisasi ini kurang lebih mirip seperti OSIS.

Di UGM, tiap fakultas memiliki badan eksekutif masing-masing namun namanya berbeda-beda. Ada LEM (Lembaga Eksekutif Mahasiswa), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), LM (Lembaga Mahasiswa, dan DEMA (Dewan Mahasiswa). Namun semuanya sama saja, perbedaannya hanya di nama.

Aku telah bergabung dengan LEM FKT UGM sejak semester satu, yaitu pada bulan Agustus 2014. Saat itu jabatanku hanya sebagai staf di salah satu departemen, yaitu Departemen Badan Usaha LEM atau yang biasa disebut dengan BUL. Di organisasi lain, BUL mungkin memiliki nama Departemen Kewirausahaan (Kewirus), Departemen Ekonomi Mahasiswa, dan lain sebagainya. Tapi fungsinya sama saja, yaitu untuk mengembangkan potensi jiwa wirausaha mahasiswa dan tentunya mengisi kas lembaga.

Pada bulan Desember 2014, tibalah saatnya pergantian kabinet LEM FKT UGM. Aku memang masih ingin melanjutkan di BUL sebagai staf. Tiba-tiba pada suatu malam, aku ditelepon oleh calon ketua LEM baru yang telah menang di PEMILWA, yaitu Mas Abdurrahman Al-Ghafiqi atau yang akrab dipanggil Mas Bambang. Aku masih ingat betul waktu dia meng-SMS-ku.
"Dek Nis, lagi di mana?" 
Mendapat SMS dari calon ketua LEM baru, aku kaget.
"Lagi makan di luar, mas. Tapi ini udah selesai, mau balik ke kos. Kenapa, mas?" Balasku.
Satu detik kemudian, hpku berdering. Nama Mas Bambang muncul di screen hpku.
"Dek, kosmu di mana? Mas mau ke kosmu. Ada yang mau mas omongin." 
Aku semakin kaget, tapi aku memberitahu alamat kosku.
Saat aku sampai di kos, Mas Bambang juga sampai. Pas banget. Lalu dimulailah pembicaraan tentang kabinet baru LEM. Ternyata, Mas Bambang bermaksud melobiku sebagai calon kadep (kepala departemen) BUL.

Posisiku pada waktu itu masih maba (mahasiswa baru) atau mahasiswa tingkat 1. Maba semester 2 disuruh jadi kadep? Aku shock. Ternyata, kadepku (Mas Dhony) yang merekomendasikan namaku kepada Mas Bambang. Sebenarnya aku adalah rekomendasi ke-2 setelah Mbak Ody. Jadi sebelum melobiku, Mas Bambang sudah terlebih dahulu melobi Mbak Ody namun Mbak Ody menolak dengan alasan ingin lebih fokus kuliah.

Belum pernah ada sejarah di LEM FKT UGM mahasiswa tingkat 1 menjadi kadep.

Aku galau.

Pengen sholat istikharah minta petunjuk sama Allah.

Tapi gak pernah kebangun tengah malam.

Hiks.

Setelah 3 hari 2 malam galau, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil kesempatan yang ditawarkan Mas Bambang padaku. "Mungkin kesempatan kayak gini gak muncul dua kali," pikirku saat itu. Akhirnya, aku pun mendaftarkan diri sebagai Kadep BUL.

Dilobi oleh Ketua LEM bukan berarti aku langsung diterima menjadi kadep loh, ya. Aku tetap harus mengikuti tahapan rekrutmen seperti orang lain yang tidak dilobi. Maka aku tetap mengisi formulir registrasi dan mengikuti wawancara.

Wawancara kadep ternyata agak lebih berat daripada wawancara staf yang pernah aku jalani dulu. Para trivium (ketua, sekretaris jenderal, menko internal, dan menko eksternal) LEM benar-benar menggali lebih dalam seperti apa pribadiku. Mereka sampai bertanya apakah aku punya pacar, jika aku punya pacar apakah pacarku dapat mentolerir kesibukanku sebagai kadep di LEM, jika ada hal yang urgent apakah aku lebih memprioritaskan pacar daripada LEM?

Saat itu kalau tidak salah, Mbak Lala (KSDH 2013) juga ingin mendaftar menjadi kadep BUL namun ia mundur karena Mas Bambang sudah melobiku. Singkat cerita, akhirnya terpilihlah aku sebagai Kepala Departemen Badan Usaha LEM 2015. Amanah telah diberikan kepadaku selama setahun ke depan.

Di awal kepemimpinanku, tidak sedikit omongan miring yang mendarat di telingaku. Aku saat itu hanya membiarkan omongan-omongan tersebut masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Hal itu wajar saja mengingat aku adalah kadep termuda sepanjang sejarah LEM FKT UGM. Kata-kata pedas tak hanya aku dapatkan dari para tetua (kabinet sebelumku), namun bahkan dari teman-teman seangkatanku.
"Kabinet tahun 2015 ini prematur." (Karena ada aku yang masih mahasiswa tingkat 1)
"Belum matang"
"Kalau belum siap jadi kadep, gak usah jadi kadep dululah"
Sedih? Sedikit. Mundur? Gak akan.

Setiap ada yang memberitahuku tentang omongan miring seperti di atas, aku malah semakin tertantang untuk bekerja lebih baik dari kabinet sebelumku. Aku tidak pernah tidur cukup 8 jam dalam sehari. Kosku hanya untuk tempat aku mandi dan tidur karena waktuku lebih banyak aku habiskan untuk rapat di kampus. IP-ku sedikit turun karena aku terlalu fokus di LEM. Dan apa hasilnya? Omongan miring tersebut pelan-pelan terganti oleh pujian.
"BUL tahun ini banyak perubahan ya dari tahun lalu."
"BUL sekarang keren, Nis."
"BUL tahun lalu kayak gak kelihatan loh kinerjanya. Keren kamu, Nis."
"Kantin Mahasiswa buka terus ya sekarang. Sebelum kamu jadi kadep kan tutup terus."
Alhamdulillah.

Salah satu pujian yang aku dapatkan dari sekretaris jenderal (sekjend)-ku Mbak Fitri yang selalu kuingat adalah "Aku gak nyangka kinerja departemenmu bagus, gercep. Awalnya aku kira karena kamu masih maba, aku bakalan harus ngasih ekstra effort untuk ngedampingin dan ngebimbing kamu. Tapi ternyata kamu udah bisa gerak sendiri tanpa nunggu bantuanku." 

Aku bersyukur bisa berjuang bareng di Kabinet Wanacita yang jargonnya "Tangguh Berkarya" ini. Kabinet Wanacita adalah keluarga baruku. Rapat sampai jam 11 malam, 12 malam, 2 pagi, bahkan gak pulang tapi semua itu ada hasilnya. Terima kasih atas segala canda, tawa, tangis, semangat, keharmonisan, dan cinta kalian. Aku harap kabinet 2016, Kabinet Juang dapat berkontribusi lebih baik dari Kabinet Wanacita untuk membangun FKT tercinta. Terus berkarya dan lanjutkan perjuangan kami ;)

Credits to: Keluarga Wanacita 2015

Comments

Popular posts from this blog

Prospek Kerja Sarjana Kehutanan

Kenapa Fakultas Kehutanan UGM?