The Art of Teaching Kids



Sejak 12 September 2015 lalu hingga saat ini, aku menjadi tentor les privat di sebuah Lembaga Bimbingan Belajar yang kantornya berada di Jalan Kaliurang KM 5 Yogyakarta. Sampai saat ini, aku sudah memiliki 3 orang murid. Masing-masing muridku bernama Rahma (Kelas 6 SD), Lia (Kelas 5 SD), dan Novan (Kelas 5 SD).
Aku tau setiap anak pasti memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Tapi semenjak menjadi guru les privat barulah aku menyadari uniknya keanekaragaman sifat anak-anak. Aku belajar memahami sifat mereka, kebiasaan mereka, cara mengontrol mereka ketika mereka sudah di luar batas, bahkan mengembalikan mood mereka ketika mereka sudah kelihatan bosan belajar. Agar bisa masuk ke dunia mereka, di saat mereka sudah jenuh belajar, kita harus memposisikan diri sebagai teman. Tapi ketika konsentrasi mereka sudah pulih, kita bisa bertindak sebagai guru mereka lagi. Di situlah letak "seni"nya mengajar anak-anak.
Orientasi awalku saat mendaftar menjadi guru di Lembaga Bimbingan Belajar tersebut bukanlah untuk dapat memenuhi kebutuhanku. Tapi ternyata gaji yang terkumpul dari hasil mengajar selama 6 bulan ini bahkan sudah bisa untuk membeli tiket pesawat untuk aku pulang ke Pekanbaru nanti. Padahal gajiku sudah sering aku pakai untuk memenuhi hasrat berbelanjaku seperti membeli rok, hijab, atau lipstick (biasalah, cewek). Tapi karena aku rutin mengajar setiap minggu dan uang bulanan dari orangtuaku juga tetap dikirim setiap bulannya, Alhamdulillah I can save a lot of money, hehehe.
Murid pertamaku bernama Rahma Kamilia, biasa dipanggil Rahma. Rahma adalah seorang anak yang sangat cerdas. Tidak heran, karena kedua orangtua Rahma adalah dosen. Ayah Rahma merupakan seorang dosen Ekonomi di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, sedangkan Ibu Rahma merupakan dosen Kimia di Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang. Ayah dan Ibu Rahma keduanya merupakan alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Makanya aku gak heran kalau anaknya pinter banget. Ayah dan ibunya aja alumni Ekonomi dan Kimia UGM *agak bangga sebagai anak UGM* :p
Rahma adalah anak yang memiliki daya tangkap cepat, tapi agak susah diatur. Dibutuhkan tenaga ekstra, kesabaran ekstra, dan treatment yang berbeda untuk mengajar anak seperti Rahma. Jika ia sudah mengerti tentang suatu materi, ia tidak mau lagi mengulangi mempelajari materi tersebut. Rahma adalah tipe anak yang suka jika diberikan perhatian lebih. Aku rasa itu karena pengaruh kurangnya perhatian yang diberikan orangtuanya padanya. Ibu Rahma berada di Semarang setiap Senin sampai Jumat sedangkan ayahnya seringkali pulang ke rumah pada sore atau malam hari. Jadi, Rahma tumbuh menjadi anak yang agak sulit diatur karena terbiasa bebas. Ayah dan Ibu Rahma berkata, dari semua guru les privat yang pernah mengajar Rahma, cuma aku satu-satunya guru yang cocok dengannya. Rahma sampai tidak mau les jika gurunya bukan aku. Aku hanya tertawa mendengar perkataan orangtua murid lesku itu. Mereka gak tau aja kalau aku sebenarnya juga sering kesal menghadapi kelakuan anak mereka, wkwkkw. Tapi mengajar anak seperti Rahma merupakan sebuah tantangan yang dapat mempersiapkanku kelak kalau anakku nakal haha.
 Murid keduaku adalah Lia. Aku lupa nama panjangnya. Lia udah les sama aku selama 4 bulan. Lia anak yang baik banget, penurut, sopan, santun, ramah, dan mudah diatur. Tapi ia agak susah menangkap pelajaran. Aku harus menjelaskan materi yang sama berulang kali (kadang sampai 4 kali) baru dia bisa ngerti. Tapi, ternyata memang benar bahwa setiap orang itu punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Lia memang lemah di perhitungan, tapi ia kuat di hafalan. Namun ia adalah tipe anak yang short-term memory. Artinya cepat hafal tapi juga cepat lupa. Kalau Rahma lebih ke long-term memory. Ia butuh waktu lama untuk menghafal, tapi begitu sudah hafal, tidak langsung lupa.
Murid ketigaku bernama Nofan. Aku gak tau nama lengkapnya siapa soalnya dia baru les sama aku 2 minggu. Novan sebenarnya cerdas tapi mudah bosan. Namanya juga cowok ya, gak betah lama-lama belajar. Tapi yang aku suka dari Nofan itu ketika ia serius, ia sangat berkonsentrasi penuh pada apa yang aku jelaskan dan saat aku tes dengan memberikan pertanyaan, tidak ada satu pertanyaanpun yang tidak bisa ia jawab. 
Setelah 6 bulan menjadi guru les privat, aku merasa cocok dan menemukan passionku di bidang ini. Aku suka berbagi, aku suka bertemu dengan orang-orang baru dan berada di lingkungan baru. Aku juga suka mengobrol dengan strangers, aku tidak segan untuk mengajak ngobrol orang lain duluan yang bahkan tidak aku kenal. Misalnya ketika sedang berada di pesawat, kereta api, menunggu antrian, dan lain-lain. Diam-diaman dengan orang di sebelah kita selama 2 jam di atas udara atau di dalam kereta api sangat membuatku tidak nyaman. Mengobrol dengan strangers dapat menambah wawasan kita. Terlebih jika mengobrol dengan foreigner. Kita juga bisa mengasah dan mengukur sudah sebagus apa Bahasa Inggris kita.
Aku rasa sifat 'suka mengobrol'ku itulah yang membuat ketiga muridku senang les denganku. Ketika waktu les sudah habis, aku sering mengajak mereka mengobrol tentang apapun. Lia dan Nofan bahkan sering bercerita tentang orang yang mereka sukai di sekolah. Aku jadi mengingat-ngingat apa saat kelas 5 SD dulu aku udah kayak mereka hahaha. Tapi, kadang sifat 'suka mengobrol'ku itu bisa juga disalahartikan 'suka' sama orang-orang yang baper huhuuu :" Udah ada beberapa cowok yang baper sama aku gara-gara aku ajak ngobrol terus malah intens nge-chat aku. Bahkan sampai free call aku dan ngajak makan. Hiks. Gak ngerti kenapa di kampus bisa-bisanya aku dikatain baper. Padahal kalau aku bener-bener suka sama seorang cowok, biasanya aku malah gak bisa ngobrol banyak sama dia. 
Oke btw ini udah gak nyambung akhir-akhirnya. Intinya aku jadi tau kalau orangtua itu berengaruh besar dalam tumbuh kembang anaknya. Sifat Rahma yang susah diatur dan suka seenaknya sendiri kurang lebih mirip sama sifatku waktu aku kecil dulu sih, wkwkwk. Karena dulu ibuku wanita karir, aku belum bangun tidur dia udah pergi kerja, aku udah tidur dia belum pulang kerja, jadilah aku nakal banget karena dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, aku cuma diurusin sama pembantu. Tapi setelah ibuku berhenti kerja (dipaksa papaku) entah kenapa aku jadi berubah drastis jadi anak baik, sopan, santun, penurut, pinter, cantik, alim, dan tangguh. HAHAHA NGACO. Gak ding, cuma sahabat-sahabat terdekatku yang tau gimana heboh dan gilanya aku. Masih berusaha untuk jadi bu guru yang kalem ;)

 

Comments

Popular posts from this blog

Prospek Kerja Sarjana Kehutanan

Kenapa Fakultas Kehutanan UGM?