Kota Pelajar Vs Bumi Lancang Kuning


      Pada kesempatan ini aku mau ngebahas tentang hal yang udah lama muncul di pikiranku, yaitu perbedaan-perbedaan antara kota Yogyakarta dengan kota kelahiranku, Pekanbaru. Aku nggak bisa menjelaskan secara terperinci karena aku baru tinggal di Yogyakarta selama 2 tahun, sedangkan aku lahir dan dibesarkan di Pekanbaru selama 18 tahun. Tulisanku ini juga bersifat sangat subjektif, yaitu dari sudut pandangku sendiri. Tapi aku yakin orang-orang yang berasal dari Riau dan hidup di Yogyakarta dalam waktu yang lama juga merasakan hal ini.
 So, langsung aja ke topik pembicaraan kita yaitu tentang perbedaan-perbedaan yang terdapat di Kota Pelajar (Yogyakarta) dan Bumi Lancang Kuning (Pekanbaru). Perbedaan-perbedaan ini aku lihat dari berbagai aspek baik itu budaya, kebiasaan, adat, tata krama, dan banyak lagi.


  1. Budaya memakai pakaian adat daerah
Semua orang Riau pasti tahu kalau setiap hari Jum’at, seluruh institusi di Riau baik itu institusi pendidikan maupun perkantoran mewajibkan anggotanya untuk memakai pakaian khas Melayu, yaitu baju kurung (untuk perempuan) dan baju teluk belanga (untuk laki-laki). Suatu hari, pernah ada saudaraku dari Jakarta yang datang ke Pekanbaru. Pada hari Jumat, aku mengajaknya jalan-jalan keluar rumah dan ia terheran-heran melihat semua orang pada hari itu memakai pakaian adat Riau. Termasuk aku yang saat itu baru pulang sekolah dan masih mengenakan baju kurung.  Ya, semua anak sekolah mulai dari TK, SD, SMP, sampai SMA wajib memakai baju adat Riau setiap hari Jumat. Begitu pula dengan orang-orang kantoran, bahkan pegawai bank. Tapi gak seharian penuh kok, hanya pada saat berada di kantor atau sekolah saja. Dan untungnya pakaian adat Riau nggak ribet.

Nih, anak TK aja pakai baju melayu tiap Jumat. Lucu kaan?

Ini sebenarnya foto anak-anak di sekolahku sendiri, SMA Negeri 8 Pekanbaru.

























Ini guru-guruku :)

      2.       Waktu sholat

Pekanbaru dan Yogyakarta itu sama-sama WIB (Waktu Indonesia Barat). Jika di Pekanbaru saat ini pukul 12 malam, maka begitupun di Yogyakarta. Tapi, jadwal sholatnya sangat berselisih jauh. Hal inilah yang pertama kali menjadi kendala bagiku saat aku baru menetap di Jogja. Di Pekanbaru, maghrib itu pukul 18.25, tapi di Jogja pukul 17.45 sudah azan maghrib. Rata-rata teman-temanku sesama anak Riau yang baru mulai kuliah di Jogja jadi pada telat sholatnya wkwk. Hal ini turut berimbas pada kemampuan beradaptasi orang Riau saat bulan Ramadhan di Jogja. Kalau biasanya di Riau jam 4 baru mulai menyantap hidangan Sahur, di Jogja mah sebelum jam 4 udah Imsak. 

3.  Image orang Jogja yang ramah

Pada setuju gak kalau aku bilang warga Yogyakarta itu ramah-ramah? Bukan berarti warga Pekanbaru gak ramah, ya. Tapi kalau dibandingin Jogja sih masih ramahan Jogja, wkwkwk. Mungkin karena di Jogja lingkungannya kental sama adat dari Keraton, ya. Contoh nyatanya kalau orang Jogja itu ramah-ramah gini, suatu hari aku pernah hunting foto sama temenku di sekitar kawasan Malioboro deket KM 0. Pas aku lagi duduk-duduk, ada bapak tukang becak yang ngajak aku ngobrol dengan membuka topik pembicaraan berupa:
"Kuliah di mana mbak?" *Alhamdulillah mukaku keliatan kayak muka anak kuliahan, bukan muka tante-tante.*
"Oh, di UGM, pak." Jawabku sambil tersenyum.
"Jurusan apa?" Tanya bapaknya lagi.
"Kehutanan, pak."
"Oh kehutanan. Saya pernah baca buku karangan anak Kehutanan UGM."
Aku kaget. "Wah saya aja baru tau, pak. Cewek atau cowok itu penulisnya?"
"Cewek, mbak."
Nah ini, di Jogja kalau kamu tua atau muda tetap dipanggil dengan "mas" atau "mbak".
Aku pun tertarik untuk mengobrol lebih lama dengan bapak tukang becak yang sepertinya memiliki wawasan luas ini. Jelas dong, orang yang suka baca buku biasanya punya wawasan yang luas.
"Bukunya tentang apa, pak?" tanyaku lagi.
"Tentang cara menulis yang baik, mbak. Bagus itu bukunya. Mbak beli aja di kios buku-buku belakang Taman Pintar." Jawab bapak itu.
"Wah, boleh tuh pak. Kebetulan saya juga suka nulis."
"Nah cocok itu kalo suka nulis. Mbak orang mana?" tanya bapak itu lagi. 
"Saya dari Riau, Pak. Tapi papa saya aslinya Jogja, mama saya aslinya Riau." Jawabku. Bapak itu hanya mengangguk sambil berkata "Ooh," samar-samar. 
"Bapak asli Jogja?" tanyaku lagi.
"Iya, mbak. Saya asli Jogja, belum pernah ke luar." Jawab bapak itu sambil tertawa.
Dan obrolan kami bersambung sampai ke mana-mana. Lalu karena temanku sudah bosan, aku pun berpamitan pulang pada bapak itu.
Contoh lain bahwa warga Yogyakarta itu ramah adalah ketika aku naik taksi sendirian dari kost menuju bandara tahun lalu. Lagi-lagi, yang pertama kali membuka percakapan adalah supir taksi yang mengantarku. Dan kami langsung membicarakan banyak hal bahkan sampai ke kurs dollar. Pokoknya sepanjang perjalanan dari kostku ke bandara, keheningan di dalam taksi gak pernah lebih dari 3 menit. Dan aku akui, supir taksi itu punya wawasan yang luas banget. Pas aku tanya, "Bapak kok tau banyak hal e?" bapaknya jawab, "Ya saya cuma suka baca-baca koran, mbak kalau lagi nunggu penumpang." 
Sesampainya di Pontianak, apa yang terjadi? Setelah pesawatku landing dan aku mengaktifkan ponselku, masuk SMS dari papaku yang isinya: "Saya ada meeting, tdk bisa jemput. Supir sedang dlm perjalanan ke airport."
Kaku banget kan papaku, ngomong sama anak sendiri aja pake 'Saya'. Terus udahlah anaknya cuma pulang 6 bulan sekali, sekalinya pulang malah nyuruh supir yang ngejemput. Nah, sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah, aku sama supir papaku gak ngobrol satu katapun. Dan karena judul postinganku ini tentang Pekanbaru Vs Yogyakarta, aku gak akan membandingkan dengan Pontianak. 
Selama bertahun-tahun tinggal di Pekanbaru, kalau naik taksi aku hanya diam. Jangan harap supir taksinya mau repot-repot ngajak penumpangnya ngobrol. Mereka cuek banget.
Oke, pada poin ini ada beberapa hal yang bisa aku simpulkan, yaitu selain ramah, warga Jogja juga berwawasan luas. Walaupun hanya tukang becak dan supir taksi, mereka juga rajin meng-upgrade pengetahuan mereka.

4. Tukang parkir
Ketika aku hangout atau meet up dengan teman-temanku yang orang Pekanbaru dan berkuliah di Jogja, pasti kami akan membahas dan membanding-bandingkan Jogja dan Pekanbaru. Salah satu topik yang kami bandingkan adalah mengenai tukang parkir. Semua teman-temanku ternyata juga merasakan bahwa ada yang berbeda dengan tukang parkir di Jogja dan Pekanbaru. Apa perbedaannya? Perbedaannya adalah, tukang parkir di Jogja itu bener-bener kerja, ngangkat-ngangkat motor, bantuin nyebrang jalan, dan tetap ramah juga. Sedangkan tukang parkir Pekanbaru? GABUT! Mereka cuma duduk diem ngeliatin motor kita. Kita ngeluarin motor sendiri dan gak dibantuin.

5. Cowok Jogja
Nah, kalau aku sama temen-temen cewekku anak Pekanbaru juga bicarain ini, nih. Cowok Jogja itu terkesan lebih sopan di mata kami daripada cowok Pekanbaru. Selain karena bahasa dan sapaan (kalau di Pekanbaru kan ngomongnya sehari-hari pakai 'kau' dan 'aku', sedangkan di Jogja pakai 'kamu' dan 'aku') sikap mereka terhadap cewek juga beda. Di Pekanbaru, ketika seorang cowok udah manggil cewek dengan 'kamu', bukan 'kau' lagi, artinya cowok itu ada rasa terhadap cewek itu. Kalau cowok-cewek udah berpacaran, secara otomatis mereka akan langsung 'ber aku-kamu', gak 'ber aku-kau' lagi. Tapi kalau di Jogja kan enggak, sama temen juga pake 'kamu'. 
Over all, pokoknya cowok Jogja dan cowok Pekanbaru itu beda. Aku sering ngerasain sih bedanya bergaul sama temen-temenku yang cowok Pekanbaru dengan yang cowok Jogja. Cowok Jogja tetap aja terkesan lebih ramah di mata kami. Tapi jangan sampai ge-er loh ya, kan cowok Jogja ramahnya ke semua cewek, bukan cuma ke kamu aja. Hahaha. Sedangkan cowok Pekanbaru kalau lagi ngedeketin cewek yang dia suka akan mencoba untuk lebih ramah. Bukan hanya ke cewek itu, tapi juga ke semua temen-temen cewek itu. Jadi bisa keliatan bedanya kalau dia lagi suka sama seorang cewek. Nah kalau mau ngebedain cowok Jogja lagi suka sama cewek gimana? Orang mereka ramah ke semua cewek wkwkwk.

Comments

Popular posts from this blog

Prospek Kerja Sarjana Kehutanan

Kenapa Fakultas Kehutanan UGM?