Hijrah : Tak Sesulit yang Dilihat, Tak Semudah yang Dibayangkan (Part 1)

Akhir-akhir ini pasti kita sudah tidak asing dengan istilah ‘hijrah’, bukan? Tidak ada definisi baku mengenai hijrah, namun intinya hijrah itu adalah berubah ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi, kalau berubahnya ke arah yang lebih buruk dari sebelumnya, tidak bisa dikatakan hijrah. Contoh:
A : “Eh, si fulanah kok sekarang jilbabnya kadang pake kadang copot ya? Padahal dulu kan dia anak rohis.”
B : “Biasa, hijrah.”
Ini jelas gak bisa disebut hijrah ya, guys. Beda kalau:
A: “Si fulanah sekarang pakaiannya gamis terus ya. Kayaknya dulu pakaiannya ketat-ketat.”
B: “Iya, dia udah hijrah.”
Nah, ini baru benar.


Tidak bisa dipungkiri ketika kita melakukan suatu perubahan, akan muncul opini-opini publik baik yang pro maupun yang kontra dengan perubahan yang kita lakukan. Mau tidak mau kita yang sudah berhijrah dituntut lebih bijak dalam menyikapi tanggapan-tanggapan tersebut. Karena biasanya ketika kita tidak bisa mengontrol sikap kita, orang-orang yang kontra akan menjadikan hal itu sebagai senjata untuk menyerang kita. “Katanya udah hijrah, kok kayak gitu?” atau “jilbabnya udah lebar kok masih marah-marah?”

Sebagian besar masyarakat memiliki stigma bahwa orang-orang bercadar atau berjenggot itu nyaris sempurna agamanya, sehingga mestinya harus selalu bersikap baik, tidak boleh bersikap jelek sedikitpun. Padahal orang-orang bercadar dan berjenggot itu pun masih berproses, dan tentu tidak akan pernah sempurna juga. Namun pada hakekatnya memang hijrah tidak hanya upaya kita untuk menjadi lebih baik di mata Allah, namun juga di mata manusia. Mungkin saja dengan perubahan perilaku kita yang lebih baik kepada sesama manusia, kita dapat menjadi inspirasi bagi orang lain agar berhijrah juga.

Setiap orang pasti memiliki cerita hijrahnya sendiri. Apa yang melatarbelakangi dirinya untuk berhijrah, siapa yang memotivasinya untuk berhijrah, bagaimana proses berhijrah yang ia tempuh, dan lain sebagainya. In this page I’m gonna tell you my hijrah story.

Pada akhir tahun 2017 tepatnya sekitar bulan Oktober-Desember, aku sudah banyak merasakan kecenderungan-kecenderungan untuk meninggalkan hal-hal yang kuanggap kurang berfaedah. Hal pertama yang kulakukan waktu itu adalah menghapus seluruh musik dari playlist handphone-ku. Tekadku sudah bulat untuk menghapus musik dari hp karena aku sudah sampai di titik jenuh dalam mendengarkan musik. Maksudnya titik jenuh yaitu aku tidak merasakan apa-apa lagi (tidak enjoy) ketika mendengar musik. Dalam kata lain, hatiku sudah tidak menikmati lagi alunan instrumen musik yang kudengarkan. Padahal dari SMP, aku mendengarkan musik (hanya musik western/barat) hampir setiap hari dan aku sampai hafal musisi-musisi western lengkap dengan judul lagu dan liriknya. Nauzubillah min dzalik, gak terbayang kalau nyawaku dicabut saat sedang menikmati musik. Apa yang akan kujawab ketika malaikat bertanya “untuk apa telingamu kau gunakan selama hidup di dunia?” L

Kedua, aku mulai mencari-cari kajian di Jogja. Sebenarnya aku sudah mulai mengikuti kajian/majelis ilmu sejak kelas 3 SMA sewaktu aku bersekolah di SMA Negeri 8 Pekanbaru. Ummi (ibuku) yang berperan penting saat itu karena beliau yang memberitahuku informasi adanya kajian di sebuah masjid yang selalu aku lewati saat pulang sekolah. Namun kajian tersebut hanya diadakan sekali dalam dua minggu. Kajian tersebut diperuntukkan bagi pelajar dan mahasiswa di Pekanbaru namun pesertanya sangat sedikit. Setelah beberapa kali datang sendirian, akhirnya aku mengajak sepupuku (yang seumuran denganku) ke kajian tersebut. Kami duduk di barisan akhwat yang hanya terdiri dari 2 shaf padahal masjidnya sangat besar.

Singkat cerita setelah aku pindah ke Jogjakarta untuk kuliah, aku sudah tidak pernah lagi hadir ke kajian di Jogja. Mengapa demikian? Karena aku dulu terlena oleh aktivitas/kegiatan duniawi yang membuatku lupa bahwa sebenarnya kehidupan yang abadi/kekal itu adalah kehidupan akhirat, bukan kehidupan dunia. Kegiatan-kegiatan yang kuikuti memang bisa dibilang positif, sih. Kebanyakan adalah organisasi, kepanitiaan, dan seminar yang menunjang prestasi non-akademisku serta berguna untuk kutulis di CV. Saat itu orientasiku adalah sukses di usia muda. Sukses itu kunilai dari jumlah uang yang kuhasilkan serta pekerjaan apa yang kudapatkan setelah lulus kuliah. Alhasil, waktuku habis untuk rapat hampir setiap hari. Aku lebih mementingkan datang rapat daripada datang kajian. Bagiku ini mungkin aib, tapi aku ceritakan karena aku gak pengen orang lain melakukan hal ini juga. Jangan sepertiku yang baru mendekatkan diri kepada Allah setelah semester tua di mana teman-temannya sudah sibuk sendiri-sendiri, gak ada praktikum dan laporan lagi, gak ada organisasi dan kegiatan kampus lagi, atau ketika sudah tertimpa musibah.

Pada pertengahan bulan Oktober 2017 aku baru sadar bahwa ada sesuatu yang hilang dari diriku, yaitu ketenangan batin. Saat itu aku sudah semester 7, dan aku sudah memasuki fase di mana kesibukanku mulai berkurang. Aku hanya mengulangi beberapa mata kuliah yang nilainya jelek di pagi hari, dan kerja part-time di sore hari. Weekend (akhir pekan) yang biasanya kuisi dengan kegiatan kepanitiaan atau organisasi kini sudah kosong. Suatu weekend saat sedang membersihkan rak buku di kamar kosku (setelah berbulan-bulan gak pernah dibersihin wkwk. Oke maaf gak penting) aku menemukan sebuah buku catatan dauroh ketika aku dulu SMA. Buku catatan itu berisi ringkasan kajian yang sering kuhadiri pada saat SMA. Aku langsung merasa sedih karena ternyata diriku mengalami kemunduran dalam hal agama. Aku pun langsung me-WhatsApp ummi untuk menanyakan di mana masjid di Jogja yang mengadakan kajian rutin. Kenapa gak dari dulu aja nanya ummimu, Nis? Ya, itulah yang aku sesali. Emangnya ummimu gak pernah ngasih tau kamu kalau ada kajian di Jogja? Pernah dong, tapi aku gak pernah menghiraukan. Merasa itu gak terlalu penting, urusan organisasi dan kepanitiaanlah yang lebih penting.

Alhamdulillah ummi memiliki teman di Jogja yang rutin mengikuti kajian. Ia memberitahuku bahwa Masjid Pogung Raya dan Masjid Pogung Dalangan sering mengadakan kajian. Aku pun mulai mendatangi kajian-kajian di kedua masjid tersebut. Selain itu, aku juga menghadiri kajian di Masjid Nurussalam (di Deresan) atas informasi dari temanku yang kosnya di dekat masjid tersebut.

Ketiga, aku mulai mengurangi pergi berdua dengan lawan jenis. Jujur semenjak kuliah aku merasa biasa saja ketika bepergian hanya berdua dengan lawan jenis karena aku merasa tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka. Akhir-akhir ini aku baru berpikir “ya aku memang cuma nganggep mereka temen. Lha kalau mereka nganggepnya gak gitu gimana?”

Keempat, aku mulai memiliki keinginan/dorongan yang kuat untuk berpakaian syar’i. Suatu hari rekan kantorku bertanya padaku “Kalau boleh tau, memangnya apa yang membuat Mbak Nisa masih enggan pake jilbab lebar?” Aku tertegun beberapa saat mendengarnya. Wajar sih dia nanya kayak gitu. Soalnya dia tau kalau aku udah gak mendengarkan musik, udah menghapus semua musik dari hpku, udah mulai menghadiri kajian-kajian, tapi kenapa aku belum berpakaian syar’i layaknya orang-orang yang berhijrah lainnya? Di titik itulah aku terpikir bahwa selama ini aku tidak sadar kalau aku sebenarnya sedang melakukan hijrah. Aku gak tau kalau aku itu sudah melakukan perubahan-perubahan kecil ke arah yang lebih baik atau seperti yang sudah kujelaskan di awal, HIJRAH.

Aku membayangkan diriku dalam balutan busana syar’i sementara aktivitasku rata-rata di lapangan (read: hutan). Pada umumnya, akhwat-akhwat di fakultasku yang mengenakan pakaian syar’i di lapangan akan dianggap menghambat oleh yang lain. Tapi kan aku sekarang sudah semester 7. Aku udah gak ke lapangan lagi. Forest Camp udah, Kuliah Lapangan udah, Praktek Umum Getas (sebulan di hutan) juga udah, CASM (praktek jurusan) udah juga.

Pertanyaan rekan kantorku tersebut tidak serta merta langsung membuatku hijrah memakai busana syar’i. Aku masih berpikir selama beberapa hari setelahnya. Menimbang-nimbang apakah aku sanggup berpakaian syar’i seperti ummi? Karena aku tidak mau inkonsisten dalam mengenakan pakaian syar’i. Aku ingin memakainya ketika aku sudah benar-benar siap agar aku istiqomah.

Beberapa hari kemudian, rekan kantorku tersebut bertanya lagi “Kayaknya kemarin aku liat kamu pake kaos kaki, mbak? Hari ini kok enggak?” JDEEER! Seumur-umur baru kali ini aku merasa ada orang yang memperhatikan apa yang aku kenakan sampai kaos kaki! Biasanya teman-temanku selama ini cuma merhatiin model bajuku doang kayak “Bagus Nis bajumu.” atau “Rok baru ya Nis? Beli di mana?” Tapi teman kantorku ini yang diperhatikannya adalah kaos kakiku. Tandanya ia sangat men-supportku untuk menutup aurat dengan sempurna which is good.

 Apakah berhenti sampai di situ? No. Selanjutnya teman kantorku itu juga pernah bertanya “kalau gak salah, kayaknya kemarin aku liat Mbak Nisa pakai celana jins, ya? Kenapa itu mbak?” Fine. Baru kali ini punya temen yang notice dengan apa yang aku kenakan. Penasaran, aku pun bertanya “temen mas ada gak yang jadi berpakaian syar’i setelah mas bimbing?” Dan ternyata jawabannya cukup membuatku terkejut. “Hmm lumayan, mbak. Dari yang jilbabnya pendek jadi jilbab lebar, ada. Dari yang gak jilbaban jadi jilbaban, juga ada.” Masyaa Allah. Gak heran, sih. Dia punya skill komunikasi yang bagus juga.

Akhir Desember 2017, terdapat masalah keluarga yang cukup membuatku terpukul. Papaku mengajukan resign tanpa memberitahu keluarganya. Bahkan ummi aja gak tau. Lalu beliau mengharuskan ummi dan adik-adikku pindah ke Bantul padahal ummi sangat tidak cocok tinggal di sana. Alasannya jelas, yaitu karena lingkungannya masih banyak melakukan bid’ah dan di masjid sana belum ada kajian sunnahnya. Belum lagi rumah mbahku di Bantul itu dipenuhi dengan foto-foto makhluk hidup yang tergantung di dinding, membuat malaikat tidak mau masuk ke rumah tersebut. Gak berhenti sampai di situ, orang tuaku bahkan masih berselisih pendapat tentang rencana papaku yang ingin berwirausaha. Ummi lebih setuju kalau papaku fokus menjaga nenekku saja (birru walidain) karena ummi tau papaku itu orangnya gak bisa multitasking. Apakah masalah berhenti sampai di situ? Oh tentu tidak, kawan.

Aku sebagai anak pertama yang sudah dewasa selalu menjadi tempat curhat kedua orang tuaku. Setiap kali aku berkunjung ke rumah kontrakan ummi (akhirnya beliau ngontrak), pasti ummi curhat tentang papaku. Begitu pula dengan papaku yang seringkali memintaku menyampaikan sesuatu ke ummi ketika ia sedang tidak mau ngomong dengan ummi (jadi tukang pos gitulah). Oke ini kok jadi merambat ke masalah keluargaku -_- Intinya lama-lama aku mulai merasa jenuh dengan sikap kedua orang tuaku yang tiba-tiba childish padahal selama ini gak pernah begitu. Akhirnya aku sering nangis malam-malam di kos sampai mata bengkak di pagi harinya, jadi males ngobrol sama orang bahkan gak pengen ketemu orang, bolos kuliah (tapi tetep masuk kantor hehe), dan butuh pengalih perhatian. Untuk mengalihkan pikiran dari masalah keluarga, aku iseng membuka youtube dan menemukan video-video ustadz hitz seperti ustadz Abdul Somad dan Adi Hidayat. Keesokan harinya aku mulai mendatangi kajian lagi. Masyaa Allah, ketika aku datang kajian, pikiranku benar-benar jernih dan teralihkan dari masalah-masalah yang sedang kuhadapi. Rasanya tenang dan hati seperti ringan gak ada beban. So far, attending a kajian really works for me.


3 Januari 2018 alhamdulillah aku mulai mengenakan pakaian syar’i. Aku merasa udah gak ada lagi yang menghalangiku untuk menunda-nunda menutup aurat dengan sempurna. Temen kantorku itu gimana reaksinya? Dia kaget, dong. Hahaha. Di manapun kamu sekarang aku doakan semoga selalu dalam lindungan Allah, dilancarkan urusannya, dan makasih ya mas karena udah jadi semacam ‘penggerak’ aku buat hijrah dalam berpakaian. Tau gak mas, semenjak kamu negur aku kenapa gak pake kaos kaki itu, tiap keluar rumah aku jadi selalu make kaos kaki :”) aku gak mau ada orang lain lagi yang merhatiin kakiku karena ntar aku jadi berdosa L



Masih ada poin ke lima, ke enam, dan seterusnya. Nantikan part ke-2 nya yaa ;)




Pekanbaru, 17 Juni 2018



Comments

  1. Salamalaykum, slm knal ya ukh,,, sy google tntang hukum pk kaos kaki nyambung k blog nie dpt kisah ckup mnarik,, mmang hdayah dtng mmang djemput dr kjadian yg tak kt duga2,, n kt hrs siap n istiqoma krn tantngan n cbaan bnyk,, mksh dh share d tggu part lnjutan y ^^,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumussalam, afwan atas keterlambatan reply-nya ya.. iya mohon doakan agar tetap istiqomah yaa

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Prospek Kerja Sarjana Kehutanan

Kenapa Kehutanan UGM?