10 Poin Penting Pendidikan Dasar Anak

Bismillah,
Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh ^^

Ciee tumben banget ya ngucapin salam :") Postingan kali ini dibuka dengan salam karena ini adalah postingan pertamaku setelah vakum dari dunia blogging selama………….. 1,2 TAHUN! T_T

Jujur aku ngerasa bersalah sama diriku sendiri karena gak nulis blog setahun walaupun yang baca blog ini mungkin cuma penulisnya sendiri --" Belum pernah aku vakum ngeblog sampai setahun gini.

Alasan tidak tersentuhnya blog ini selama 1 tahun 2 bulan yaitu dikarenakan penulisnya sibuk skripsian nyambi part-time jadi reporter kampus for the past few months. Selesai menulis skripsi (dan kontrak part-time otomatis juga selesai karena student staff harus resign ketika sudah diwisuda), alhamdulillah penulisnya diterima kerja di sebuah perusahaan web (sebagai content writer lagi).

Segala hal yang aku kerjakan selama setahun terakhir ini berhubungan dengan tulis menulis: Skripsi, Reporter (nulis berita ter-update), dan juga bekerja sebagai seorang content writer. Hal ini membuatku futur untuk menulis di blog seperti biasanya.

Namun dua bulan belakangan ini aku sudah mulai merindukan blogging lagi. Tak kuasa daku membendung kata-kata dan susunan kalimat yang menari-nari di otak setiap mendengar suatu isu atau fenomena menarik. Akhirnya kuputuskan untuk mulai menulis blog lagi dan aku menantang diriku untuk konsisten menulis 1 artikel setiap 2 minggu. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi kembalinya penyakit futur.

- CHALLENGE ACCEPTED -

Bismillah, semoga diri ini bisa selalu menghasilkan tulisan bermakna tiap 2 minggu sekali, ya... Oke sekarang kita langsung masuk ke inti aja, yaitu tentang 10 Poin Penting Pendidikan Dasar Anak yang aku dapat dari Sekolah Ibu (setiap Sabtu dan Ahad di Madrasah 'Aisyah Litarbiyatin Nisa'). Tapi aku cuma ikut yang hari Ahad aja karena Sabtu-nya tahsin.

Postingan kali ini dilatarbelakangi oleh rasa 'ketidaknyamanan'ku berada di tengah-tengah generasi milenial yang pemikirannya sudah mulai terpapar liberalisme. Kenapa aku katakan demikian? Here we go...

Satu bulan terakhir ini, story Instagram-ku dipenuhi oleh gambar tiket sebuah film yang sedang booming di layar lebar Indonesia. Aku tidak perlu menyebutkan judul film tersebut secara lengkap dan gamblang, cukup dengan inisialnya saja yaitu DGB.

Film DGB menceritakan tentang sepasang remaja SMA yang disenangi dan dicintai oleh teman-temannya di sekolah. Namun pada suatu waktu, sepasang remaja tersebut melakukan hal yang diharamkan dalam agama hingga berakibat hamilnya si remaja perempuan.

Menurut ulasan teman-temanku pada story Instagram-nya, director film DGB mengemas tontonan tersebut dengan sangat baik dan apik. Penonton yang telah terpikat hatinya oleh film tersebut mengatakan bahwa film DGB mengandung nilai-nilai yang sarat akan makna dan pembelajaran berguna untuk bekal calon orang tua milenial di zaman ini, di mana anak membutuhkan pengawasan dan kebebasan yang imbang (katanya). Teman yang satu mulai merekomendasikan film tersebut ke temannya yang lain. Dan yang sudah menonton film tersebut rata-rata memberikan rating 9/10. Tak lupa mereka memberikan apresiasi untuk dunia perfilman Indonesia yang katanya mulai membaik dengan adanya film-film seperti Dilan dan DGB ini.

Review netizen di dunia maya menarik lebih banyak orang untuk menonton film tersebut hingga dalam kurun waktu 1 minggu saja film DGB telah ditonton oleh lebih dari 1 juta orang di seluruh Indonesia. Rekor ini mengalahkan jumlah penonton film fenomenal Dilan 1990.

Aku bukannya ingin menulis review tentang film tersebut. Bukan. Yang aku soroti pada fenomena ini adalah, betapa mudahnya masyarakat menyerap/menerima tontonan yang tidak berlandaskan pada norma-norma agama dan budaya. Pacaran dianggap hal yang lumrah, laki-laki dan perempuan berada dalam satu kamar dianggap biasa, hamil di luar nikah sudah tidak dianggap tabu lagi. Hal ini menunjukkan kemunduran, bukan kemajuan.

Film DGB kini dijadikan patokan dalam mendidik anak di masa depan. Padahal kita sudah memiliki Agama Islam yang telah mengatur hal ini (re: pendidikan anak) secara sempurna. Maka sangat disayangkan ketika masih ada yang beranggapan, "tidak apa-apa anak berpacaran, asal orang tuanya tetap mengawasi dan memberikan sex education agar pacarannya tidak melewati batas". Pacaran seharusnya adalah suatu hal yang MUTLAK dilarang oleh SEMUA orang tua muslim.

Bisa dibuktikan di lapangan, mayoritas masyarakat di negara yang (katanya) memiliki jumlah muslim terbesar di dunia, berpikiran seperti itu. Padahal sebagai muslim, sejatinya kita harus selalu menjadikan agama sebagai patokan dalam menjalani hidup.

Mendidik anak merupakan salah satu hal terpenting yang konsepnya telah dijelaskan dalam Islam. Jika kita mau membedah dan mempelajari cara mendidik anak ala Rasulullah salallahu'alaihi wasallam, psikologi anak dalam Islam, cara mendidik anak laki-laki, cara mendidik anak perempuan, niscaya masyarakat Indonesia akan memiliki generasi muda yang berkualitas tinggi dan maju. Angka kebucinan akan menurun drastis, insya Allah.

Alhamdulillah di salah satu kelas Sekolah Ibu yang aku ikuti, pematerinya (Ummu Ghifari) pernah menyampaikan terkait 10 poin penting pendidikan dasar anak, yaitu:
1. Ilmu agama sebagai prinsip dasar.
2. Keistimewaan rumah sebagai wadah pendidikan.
3. Kesholehan orang tua sebagai modal utama.
4. Pendidikan yg memerdekakan.
5. Menyemai akhlak mulia.
6. Menempa mental anak.
7. Mempersiapkan anak gemar beribadah dan beramal sholeh.
8. Anak dan pendidikan seksual.
9. Anak dan sosial kemasyarakatan.
10. Mempersiapkan anak untuk berdakwah di jalan Allah.

Bisa kita lihat di poin nomor 8 terdapat topik tentang Anak dan Pendidikan Seksual. Artinya topik ini memang wajib diberikan oleh orang tua kepada anak. Orang tua bisa mempelajari jurnal-jurnal sebagai referensi sebelum menjelaskan sex education pada anak. Hal ini sangat penting dilakukan oleh orang tua apabila ingin anaknya menjadi orang yang tidak salah dalam menyerap informasi. Pasti akan berbeda dampak apabila anak mendapat Pendidikan seksual dari orang tuanya daripada anak mencari tahu sendiri di internet ataupun dari teman-temannya.

10 poin di atas insya Allah pengen aku bahas semua di blog-ku. Poin-poin tersebut dibahas satu per satu setiap bulannya di kelas Ummu Ghifari. Semoga aja aku bisa datang ke semua pertemuannya yaa.

Comments

Popular posts from this blog

Prospek Kerja Sarjana Kehutanan

Kenapa Kehutanan UGM?