Cina Darurat Virus Wuhan, Indonesia Darurat Virus Tik Tok

Malam ini, pada postingan pertamaku di Tahun 2020, aku ingin berbagi keresahan.

Keresahan yang telah menyesakkan dada sejak beberapa minggu terakhir, di mana virus itu mulai menyebar.

Virus tersebut telah menjangkiti sebagian besar anak muda di negaraku dengan cepat tanpa sempat dicegah.

Virus itu bernama Tik Tok.

Mungkin sebagian besar orang belum mengetahui bahwa Virus Tik Tok tersebut berasal dari Tiongkok.

Ya, Negara Cina kini memang tengah menggemparkan dunia dengan mewabahnya 2 virus berbahaya, yaitu Virus Corona dan Virus Tik Tok.

Virus Corona memang sudah sangat disadari perkembangannya oleh masyarakat dunia. Terlebih setelah WHO resmi menetapkan status 'Darurat' untuk kasus Virus Corona di Cina.

Jika ada seseorang yang mengalami keluhan seperti gejala pneumonia, akan langsung dicurigai terkena Virus Corona. Lalu akan diberi penanganan khusus seperti diisolasi dan dikarantina.

Namun berbeda halnya dengan virus satunya lagi yang ingin aku bahas pada tulisan singkat ini.

Virus satu ini mungkin sebenarnya tidak bisa disebut sebagai virus, dimana definisi virus itu sendiri menurut para ahli adalah : parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis.

Lantas, mengapa aku menyebut Tik Tok sebagai virus?

Tidak lain dan tidak bukan adalah karena kedua virus tersebut memiliki kesamaan ciri, yaitu : aktivitasnya harus pada makhluk hidup.

Tik Tok aktivitasnya pada makhluk hidup atau pada benda mati? Makhluk hidup, kan? Karena yang bisa memainkan Tik Tok hanya makhluk hidup yang bergerak-gerak dengan bebas.

Apakah semua orang menganggap Tik Tok sebagai virus? Tentu tidak. Apa jangan-jangan hanya aku saja?

Yang jelas penderitanya mayoritas tidak sadar bahwa ia telah terjangkit Virus Tik Tok. Berbeda dengan penderita virus lain yang mungkin akan langsung memeriksakan diri ke dokter.

Sama halnya seperti kebanyakan virus lain, Virus Tik Tok tidaklah mendatangkan kebaikan jika dilihat dari kacamata yang jernih.

Apa manfaat bermain Tik Tok? Untuk release stress? Sebagai media berekspresi dan kreativitas?

Pertanyaan basic, kamu mau tetap menggunakan aplikasi tersebut setelah mengetahui bahwa aplikasi itu berasal dari negara yang telah menindas saudara seiman kita?

"Ah, kamu tu sok suci banget jadi orang! Tuh, barang-barangmu juga buatan Cina semua!"

Aku berlepas diri dari itu semua. Sebisa mungkin aku berusaha membeli barang-barang dari saudara seiman.

Mari kita pikirkan kembali, mengapa aku sangat resah melihat teman-temanku memainkan aplikasi yang hanya akan membuat Cina semakin kaya itu?

Yang dengan kekayaan tersebut salah satunya digunakan untuk tujuan cuci otak Muslim Uyghur (eh, maaf). Bahasa halusnya camp re-edukasi.

Ya, aku sedang berusaha meningkatkan kadar awareness siapapun pengidap Virus Tik Tok yang mungkin membaca tulisan ini.

Pernahkah terbayangkan olehmu bagaimana rasanya jika kehidupanmu yang aman dan nyaman tiba-tiba diusik?

Kamu tidak bisa melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.

Jangankan untuk beribadah sholat, puasa, menunaikan kewajiban memakai jilbab, sedangkan mengucapkan kata "aamiin" di WhatsApp saja kamu langsung dijebloskan ke camp tahanan.

Belum cukupkah bukti-bukti video wawancara mantan tahanan camp re-edukasi Uyghur yang berhasil kabur membuat hati kita meronta?

Masih kurangkah bukti fisik denah camp-camp konsentrasi Uyghur yang menunjukkan kejanggalan?

Mengapa…..... ah, sudahlah.

Saat berita tentang Muslim Uyghur yang ditindas mencuat, malu menunjukkan dukungan di media sosial pribadi.

Eh tapi...

Saat Hari Raya Natal, malah mengucapkan Selamat Natal di medsosnya. Gak nanggung-nanggung, ngucapinnya di Story IG dan status WhatsApp pribadi, dong.

Tidak hanya itu.

Saat seorang Ulama MUI yang dihormati meninggal dunia, tidak tergerak sedikitpun jemari untuk meng-share berita tersebut agar semakin banyak orang yang mendo'akan.

Eh tapi...

Saat pemain basket internasional yang kita sebut saja inisialnya KOBE BRYANT meninggal dunia, beruntun IG Story teman-temanku menunjukkan belasungkawanya seakan belum ikhlas dengan kepergian sang atlet idola itu.

Pas kemarin ulama kita meninggal dunia kamu ke manaaa? Rasanya biasa aja, ya? Padahal Allah telah mencabut ilmu dari suatu kaum dengan dicabutnya nyawa seorang ulama.

Saat berita tentang Muslim Uyghur meluas, banyak yang bersikap seakan tutup mata.

Lalu saat ada berita tentang Virus Corona di Wuhan (ditambah postingan video seorang warga Wuhan yang menceritakan keadaan kotanya), kenapa tiba-tiba jadi lebih simpatik sama Wuhan daripada Uyghur?

Oke itu cuma intermezzo aja. Mari kembali ke topik awal lagi seperti judul artikel ini.

Generasi muda sekarang masih sungkan menunjukkan pride-nya sebagai seorang muslim.

Inilah masalah terbesar yang kita hadapi.

Bagaimana Islam bangkit jika generasi mudanya terus terperosok dalam kondisi seperti ini?

Bermain Tik Tok mungkin memang menyenangkan. Selain itu, juga bisa membuat penggunanya jadi kelihatan lebih cantik dan ganteng, ya?

Aku jadi teringat dengan Bowo Alpenlieble yang beberapa waktu lalu sempat hits karena prestasinya eh karena kenampakan fisiknya di dunia nyata berbeda jauh dengan di Tik Tok.

Aku mengerti, mungkin sebagian orang ketagihan bermain Tik Tok karena aplikasi Tik Tok memberi efek wajah mereka lebih putih, glowing, mancung, bebas jerawat, sehingga meningkatkan rasa percaya diri.

Musiknya juga asik, ya? Hmm... Bagaimana dengan mendengar murottal Qur'an? Gak asik, ya...

Aku juga mengerti, memang tidak akan ada teman-temanku yang memposting dirinya ketika sedang membaca Qur'an. Kalo posting mah dibilang riya' ntar..

Tapi perhatikanlah, waktumu lebih banyak terpakai untuk bermain Tik Tok atau mengaji?

Kau rela berkali-kali take untuk Tik Tok, tapi jika harus berkali-kali mengulang membetulkan bacaan Qur'an apa mau?

Wahai para pemuda, be proud of your religion and faith!

Kita tidak mungkin mengharapkan pemerintah yang turun tangan untuk memblokir aplikasi ini. Dimana kita tahu bahwa pemerintahan kita pun telah dikuasai oleh Cina.

Dan aku bukannya membenci orang Cina secara spesifik maupun umum, bukan. Aku juga mempunyai beberapa teman yang orang Cina, bahkan 1 sahabatku Cina.

Tapi yang aku maksud di sini adalah orang-orang Cina yang bersinggungan langsung dengan kasus Uyghur dan Tik Tok.

Akhir kata, mari kita berdoa sama-sama agar Virus Tik Tok ini segera dibasmi dan tidak menyebar lebih luas lagi.

Perubahan ada di tanganmu. Ingin membuat virus ini kian merajalela atau menahan penyebarannya?



xoxo,
-Nisa Husnainna-

Comments

Popular posts from this blog

Prospek Kerja Sarjana Kehutanan

Kenapa Fakultas Kehutanan UGM?